Thursday, 28 September 2017

Wisata Gunung Pancar: Harapan VS Realita




Alasan kami jalan-jalan ke Gunung Pancar karena hutan pinus ini sedang cukup kekinian di Instagram. Atau mungkin udah lama, cuma guenya aja yang ketinggalan kereta? Okelah kalo begitu, mungkin tempat wisata ini udah ada dari era fir'aun tapi hasrat untuk upload foto Instagram tentu jadi alasan yang cukup valid untuk pergi ke suatu tempat 'kan? LOL. Just kidding! Anyway walau dengan bermodal GPS seadanya (tapi kamera dan baterai cadangannya teteup super lengkap), saya dan keluarga yang terdiri dari suami siaga beserta anak balita rempong berusia sekitar 2 tahun berangkat ke sana dengan ekspektasi bakalan bertemu foto-foto ciamik seperti yang bisa dilihat di hashtag gunungpancar (baca: #gunungpancar)

Gak jauh sih untuk ukuran Jabotabek, mungkin kurang lebih 2 jam dari rumah orangtua gue di Tangsel kalo jalanan lagi lancar. Gak percaya? Tanya aja mbah Google. Tapi saran gue, maksimal berangkat dari Jakarta maksimal jam 8 atau sepagi mungkin dan kalau bisa hari kerja aja biar gunung Pancar serasa milik berdua (tapi ada beberapa puluh turis lain yang 'ngontrak sih). Masuk ke sini mesti beli tiket kalau enggak mau dimarahin satpam tapi harganya relatif terjangkau kok, rincian biaya masuk alias karcis bisa dilihat di situs mereka di sini (keren juga ya ada website-nya!) Semoga bisa terus di-update, tapi harganya jangan naik (?) BTW, total kerusakan untuk keluarga kecil saya sekitar Rp30.000,00. Bagi yang bawa mobil, tersedia parkiran yang lumayan (lumayan sempit) dekat sama tempat jajanan. Jadi, kalau capek maju mundur parkir (terutama kalau transmisi mobilnya manual) bisa langsung ngaso.

Nah soal makanan nanti dulu ya, begitu kita masuk ke area hutannya sendiri juga bakal ada warung dan tukang gorengan kok. Bagi yang suka pedes, jangan lupa minta cabe rawitnya. Tapi gak cuma itu, ternyata banyak mas-mas yang nawarin tempat buat foto-foto diri alias selfie. Ada yang temanya "rumah pohon", ada hammock, pokoknya luar biasa (baca: beda banget sama yang gue bayangkan tentang tempat ini sebelumnya). Kirain bakalan damai, tenang dengan suara burung yang bersahut-sahutan gitu, pokoknya kayak latar dongeng Putri Salju saat dia jalan-jalan ke hutan tanpa ada papan bertuliskan 'SEWA HAMMOCK RPXX.XXX' dan lain sebagainya. Gue gak bilang ini sepenuhnya negatif lho ya, mungkin ini yang namanya lahan cari nafkah seiring perkembangan jaman. Gue cuma bilang ini meleset jauh dari harapan pribadi, ya kira-kira begini lah:



Walau kesan pertama gue tentang tempat ini terasa mengecewakan, tapi sebetulnya ada beberapa spot bagus kalau kita jalan terus (alias move on) ke arah hutan yang menunjukkan waktu Indonesia bagian galau karena relatif sepi dan enggak terlalu banyak orang lalu-lalang. Jadilah kami bebas main gelembung sabun, duduk-duduk di salah satu bangku dan meja kayu yang seadanya tapi lumayan daripada enggak ada, dan tentu saja poto-poto.






Intinya, tips dari saya kalau mau ke sini adalah: Daripada terlalu berharap banyak sama pemandangannya mending bawa banyak snack dan minum kalau gak mau tergoda untuk jajan terus (seperti saya). Buat yang bawa bayi ataupun balita, tentunya jangan lupa segala kebutuhan jasmani dan rohaninya (popok, mainan, susu, dll.) Last but not least, have fun! Ingat, selesai jalan-jalan kita bisa makan sosis bakar (sekitar Rp8.000,00 setusuk) yang walaupun sosisnya dipotong sama cutter yang sudah berkarat, tapi kata suami saya enak-enak aja (gue enggak dibagi) dan jangan lupa minum es kelapa mudanya yang super murah (kurang lebih 10 ribu rupiah aza per buah) tapi tetap lejat!

Moral of the story: Always move on! (Apalagi kalau sedang tidak membawa uang lebih untuk sewa tempat selfie)



No comments:

Post a Comment