Sunday, 10 September 2017

Lika-liku Visa Mesir



Sebelum ini, saya kebetulan sudah pernah apply beberapa visa  seperti US, UK, Jepang, Australia, Selandia Baru, dan lain sebagainya. Tetapi, baru saat aplikasi visa Mesir ini saya betul-betul dibuat pusing-pala-Barbie.


Alkisah saya dan suami memang bermukim di Saudi selama beberapa tahun ini, tentunya dengan memiliki izin tinggal yang sah. Kami pikir karena sama-sama negara Arab, jadi untuk apply visa Mesir enggak bakal ribet-ribet amat gitu. Ternyata, saya salah besar. Cerita singkatnya begini: Saat saya dan suami sudah memutuskan akan melewati liburan awal tahun ini ke Mesir, tentu kami pun maklum bahwa pemegang paspor Indonesia masih butuh visa untuk ke sana. Jadi, yang saya lakukan pertama-tama adalah mencari ada atau tidaknya kedutaan atau setidaknya konsulat Mesir di kota kami yaitu Khobar. Karena riset lewat Google tidak membuahkan informasi seperti alamat lengkap atau nomor telepon, saya pun berusaha untuk melempar pertanyaan ke forum ekspatriat sampai menghubungi teman yang bersuamikan orang Mesir. Berkat mereka, saya berhasil mendapatkan nomor telepon (yang katanya ialah) Egyptian Consulate di Dammam (kota besar yang gak jauh dari Khobar. Jadi kalau Khobar itu Serpongnya, Dammam itu Jakartanya deh). Patokan lokasinya antara Labour Office dan cabang Mobily. Anda bingung? Apalagi saya. BTW, nomernya +966138261199 atau +966138252299 kali aja ada yang mau nelepon dan mencoba mencari jodoh peruntungan.

Seneng banget dong saya. Rasanya udah kayak dapat nomor telepon rumah gebetan pas jaman masih SMP.  Tapi pas mencoba menghubungi, orang di seberang sana kurang lancar berbahasa Inggris dan saat menerangkan alamat yang katanya di Hospital Street pun ternyata tidak muncul di Google Maps. Keterangan yang saya dapat hanya persyaratan yang berupa kartu tanda pengenal, surat nikah (naon?), dan dua buah pas foto dengan latar belakang putih. Biayanya sebesar 350 riyal atau sekitar 1,25 juta rupiah. Dokumen yang terbilang cukup simpel, hanya saja ke mana saya harus menyerahkannya? Kalaupun pakai gojek, dijamin supirnya pun nyerah. Karena informasi Hospital Street yang ada di peta kota Dammam ya literally seputar rumah sakit beneran (duh).

Setelah kasak-kusuk soal visa Mesir ini tak membuahkan hasil sesuai harapan dan cita-cita, maka tercetus ide malas brilian untuk memanfaatkan jasa pembuatan visa saja. Kebetulan, ada satu kawasan di Khobar berisi kantor-kantor yang melayani servis semacam ini. Salah satu yang paling terkenal (baca: sering kerjasama dengan perusahaan besar seperti Aramco dan Schlumberger) yaitu ALFIFA. Memang sih, setahu saya agak mahal. Rumus umum yang berlaku: harga visa di Embassy + SAR 200 atau sekitar 750 ribu rupiah sebagai fee. Pikir saya, wah bakalan keluar dana sekitar 550 riyal per orang dong. Tapi FYI, ini masih mending ketimbang biro-biro sejenis di samping ALFIFA persis (alias masih satu kawasan) yang mematok harga hingga SAR 800 per orang! *ngacir*

Akhirnya, saya masuk juga ke kandang si ALFIFA. Ternyata mereka menawarkan harga 360 SAR per orang atau sekitar 1,3 juta rupiah untuk menjembatani proses pembuatan visa Mesir ke Egyptian Embassy di ibu kota Riyadh. Ya pungutan segitu gak jauh beda lah sama yang (katanya) ialah Konsulat Mesir di Dammam. Langsung deh saya mulai menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, berupa:
  • Surat pernyataan kerja yang menerangkan soal gaji, tanggal bergabung dengan perusahaan, jabatan dan departemen. Selain dari yang bekerja di Aramco, SABIC, dan perusahaan pemerintah, surat dari kantor ini harus disertifikasi (dicap) oleh Chamber of Commerce. PS: Jangan tanya saya Chamber of Commerce ini apa dan di mana, pokoknya saya tinggal bayar sopir dan terima jadi. Hehehe!
  • Paspor asli yang masih berlaku
  • 2 buah foto ukuran paspor dengan latar belakang putih yang memperlihatkan wajah dengan jelas (tanpa niqab) dan tidak mengenakan keffiyeh alias ghutrah (semacam kain penutup kepala) untuk pria.
  • Fotokopi kartu tanda penduduk/kartu keluarga/iqama (semacam resident card untuk warga asing yang tinggal di Saudi)
  • Exit and reentry visa untuk selain warga Saudi (biasanya bisa dicetak dari situs Ministry of Interior)
  • Bukti pemesanan hotel
  • Bukti pemesanan tiket pesawat PP

Agak ribet sih, tapi daripada visa Schengen yang selalu minta bukti rekening bank plus plus stempel ataupun visa Amrik yang terkenal akan tahap wawancaranya, ini masih lebih "waras" lah. 

Semua itu diserahkan langsung ke ALFIFA, tentu bersama formulir aplikasinya ya. Deg-degan menunggu visa kira-kira berlangsung selama 4-5 hari kerja sebelum akhirnya pecah bisul juga. Approved! Walaupun anehnya waktu saya mengambil paspor dengan visa Mesir di dalamnya, pada stiker visa tersebut tertera harga yang "hanya" SAR 150. Hahaha! Berarti rumus sotoy saya di atas bener dong ya. Sejujurnya sampai sekarang saya masih lieur kenapa tempat yang judulnya "konsulat Mesir" di Dammam itu tidak memberlakukan harga sama dan bahkan cukup jauh berbeda dengan Egyptian Embassy Riyadh ini? Tapi gak usah terlalu dipusingin lah. Apa coba faedahnya pusing? Palingan bikin Panadol laku sih. Anyway meski seringnya proses visa ini pada hakekatnya ngalor ngidul, tapi jangan pernah jadikan kewajiban aplikasinya sebagai hambatan untuk jalan-jalan tapi justru tambahan pengalaman. Lagian, kalo dipikir-pikir lucu juga ‘kan paspor hijau kita jadi banyak “stiker”. Anggep aja kayak album koleksi pas masa kecil dulu… :-P



Kalau kalian, adakah pengalaman bikin visa yang seru atau membingungkan dan masih teringat sampai sekarang?

Update: Khusus pemegang iqama, katanya sih kalau mau ke Mesir sudah gak perlu apply visa lagi. Tapi saya sendiri belum pernah coba. Mungkin bisa ditanya ke nomor di atas yang (katanya) Egyptian Embassy, good luck and happy traveling!

No comments:

Post a Comment