Monday, 26 November 2018

Hiburan Murah Meriah di Bandung: Sanggar Origami


Entah perasaan saya atau bukan, tapi haree genee kayaknya makin susah aja untuk cari hiburan (terutama untuk anak) yang enggak jauh-jauh dari shopping mall. Jujur emang asyik sih ngemol, tapi borosnya itu juga enggak nahan. Berhubung uang sekolah sekarang juga enggak murah, kayaknya enggak ada salahnya juga kan untuk berhemat dan ngajak anak main ke tempat yang masih bermutu selain emol. Nah kebetulan waktu jalan-jalan ke Bandung kemarin, saya sempet googling dan menemukan Sanggar Origami Indonesia ini!


Lokasinya sendiri ada di PUSDAI alias Pusat Dakwah Islam (jangan tanya gue kenapa). Kalau ke sana naik mobil, masuk tempat parkirannya dari gerbang yang pertama banget ya. Bayar parkir pun seikhlasnya aja (ini kata tukang parkirnya lho). Tapi kalau enggak salah ingat, letak sanggarnya justru lebih dekat ke arah parkir motor. Jadi kalau dari arah parkir mobil, mesti jalan sedikit. Pasti kelihatan kok dari luar, karena cukup nyentrik dengan spanduk dan siluet kertas lipat warna-warni yang bentuknya macam-macam. Interiornya pun nyaman, dengan lantai yang dilapis kayu (parket) dan juga cukup bersih.

Anyway, waktu masuk ke sanggar tersebut, kami langsung disambut oleh seorang petugas di sana (sebut saja Mawar karena saya lupa nama blio'). Kami membayar tidak lebih dari 15 ribu rupiah saja sebagai ganti satu set kertas lipat yang boleh dibawa pulang ke rumah. Mbak Mawar juga menunjukkan tutorial cara membuat origami sesuai usia. Berhubung umur anak saya masih empat tahun, origami yang dicontohkan juga cukup mudah, seperti melipat mahkota, ikan, dan kelinci. Karena bukan kelas khusus, jamnya sebetulnya tidak dibatasi. Buktinya kami sekeluarga berakhir nongkrong lengkap sama bayi yang gegoleran di atas karpet sambil saya bebas foto-foto dimarih. Sayangnya, jam empat sore mereka sudah harus tutup. Kalau mau lebih serius lagi, katanya sih tersedia kelas-kelas yang lebih privat di waktu tertentu (by appointment).

Oh ya, ternyata tempat ini juga bukan cuma mengajarkan untuk membuat origami namun juga melukis!



Tertarik? Di akhir post ini saya sudah coba bantu tuliskan alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Tapi kalau masih penasaran, tentu saja bisa di-google sendiri juga. BTW tulisan ini tidak berbayar dan tidak ada afiliasinya dengan Sanggar Origami di Bandung ya, melainkan betul-betul murni dari keinginan saya untuk berbagi kepada teman-teman yang butuh alternatif aktivitas baik bagi diri sendiri maupun buah hati. Selamat berkarya dan bersenang-senang!




Sanggar Origami Indonesia (SOI)
PUSDAI (Pusat Dakwah Islam)
Jl. Diponegoro No:63, Bandung
Telepon: +6281223900360
Instagram: @sanggarorigami
Comments (0)
Read more
Monday, 22 October 2018

Egypt with A Toddler: Do's and Don'ts



Dari sekitar 39 negara yang pernah saya kunjungi, Mesir itu adalah salah satu yang terbaik. Malah kalau dibikin peringkat (versi saya), Mesir itu menduduki ranking ke-2 setelah Yunani! Makanya, saya pengen sharing sebanyak-banyaknya tentang negara satu ini biar temen-temen yang belum sempat ke Mesir bisa tertarik untuk mengunjunginya juga.

Kebetulan, saya waktu itu berlibur ke Mesir bersama suami dan satu anak balita. Lah trus, apa enggak encok tuh bawa balita ke Timur Tengah yang isinya kebanyakan padang pasir? Well, ada susahnya tapi banyak juga senangnya kok. Asalkan, perjalanannya direncanakan dengan baik pula. Apa yang sebaiknya dilakukan dan semestinya dihindari? Daripada banyak cing cong, mending langsung aja ya:

Do's:
  • Wait for the perfect weather/temperature. Sebisa mungkin, ke sananya pas gak lagi musim kemarau. Karena panasnya pasti gak nahan. Waktu itu kebetulan saya ke sananya pas bulan Januari-Februari saat musim sejuk jadi enak banget kalau mau jalan-jalan di sekitar piramida. Walaupun kalau mau lanjut dari Cairo ke daerah Sinai, awal tahun masih terlalu dingin. Sebaiknya mungkin musim semi (presumably Maret atau April).
  • Bawa "perlengkapan perang" sesuai umur balitanya. Kalau anak saya, waktu itu masih dua tahun yang ke mana-mana masih mesti dibujuk pakai gadget (bad parenting, I know, tapi setelah sekarang anaknya umur 3 tahun, pergi-pergi enggak harus pakai gadget banget kok). Lucunya, sampai sepatu pun bawa 3 pasang (yang mana pulang-pulang tinggal sepasang LOL!) Tapi terlepas dari musim apa pun itu dan berapa pun umur anaknya, bawa sunblock tetap wajib ya :)
  • Cari hotel yang kids-friendly. Karena situs-situs di Mesir sifatnya adalah historis dan kultural, mungkin gak banyak yang akan menarik perhatian si balita. Karena itu, setidaknya bermalamlah di penginapan yang ramah anak, misalnya ada kolam renang, banyak aktivitas outdoor, dan cukup strategis sehingga enggak begitu jauh dari toko-toko dan restoran. 
Dont's:
  • Gengsi pake tur. Walaupun saya ngerti banget, kalau beberapa orang gak terlalu suka pake tur karena berbagai alasan: Pengen mandiri, mau berhemat, dlsb. Tapi, faktanya di Mesir kalau enggak hati-hati kita sangat berpotensi "kecele" dan justru berisiko mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang seharusnya. Jadi, untuk kasus Mesir sih saya lebih menyarankan untuk menggunakan jasa tur... Kalau memang sungkan untuk gabung sama orang lain, ada beberapa tur privat yang tersedia di Kairo dan beberapa daerah lain di Mesir dengan harga terjangkau kok. Ini bukan endorse, tapi saya sendiri menggunakan Memphis Tour dan terus terang puas dengan servis dari mereka. 
  • Bawa-bawa stroller. Daripada repot-repot gotong kereta bayi di medan Mesir yang berpasir, berbatu, berair, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bermacem-macem lah... Menurut saya sih mending tinggalin aja itu stroller di rumah dan pakai baby carrier saja demi kemakmuran bersama!
  • Spending your entire vacation in Cairo only. Walaupun Kairo adalah salah satu kota paling indah yang pernah saya temui, tapi ternyata tempat-tempat lainnya di Mesir juga enggak kalah serunya! Dari Kairo, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Aswan untuk kemudian berpesiar ke arah Luxor yang terkenal akan kuil raksasanya (jauh lebih menakjubkan daripada Parthenon di Acropolis). Lalu, jangan lupa juga bahwa ada daerah pantai di wilayah Sinai yang bertabur resor-resor bagus dan pastinya sesuai banget buat liburan bersama anak-anak kecil. 

Intinya, Mesir itu menurut saya ideal banget bagi siapa pun yang pengen pelesir baik sendiri maupun dengan keluarga. Apalagi kan nilai mata uangnya tempo hari turun setelah mengalami krisis. Imbasnya, hotel bagus jadi murah, makanan pun enak-enak dan ke mana-mana bisa naik Uber dengan aman. Untuk detail soal aplikasi visa saya dan keluarga ke sana, bisa dibaca lewat postingan ini ya. Semoga cukup membantu :)

Bon voyage! 
Comments (0)
Read more
Sunday, 15 July 2018

Visiting San Diego Zoo!


Karena bosan banget di LA (Kenapa bisa bosan? Ceritanya di post selanjutnya aja ya biar sahabat sonora pada penasaran), saya yang waktu itu lagi hamil sekitar 7 bulan dan suami beserta anak balita rempong umur 3 tahunan pun mampir ke kota sebelah yaitu San Diego buat sekalian ngeliat kebun binatangnya (San Diego Zoo). Kenapa bukan San Diego Sea World aja? Karena selain lebih mahal *maklum medit irit*, ada wahana besarnya yang tutup karena lagi direnovasi jadi kita merasa rugi bandar kalau sampai ke sana. Untungnya San Diego Zoo juga sebenarnya enggak kalah menarik buat dikunjungi. Beberapa highlight dari tempat ini yang cukup bikin saya terkesan yaitu:

  1. Begitu sampai di sana, langsung ada satu "staf" (sepertinya sukarelawan sih) yang menyambut ramah dan memberikan peta secara gratis. Tau aja kalo gue paling suka yang gratis2. Selain itu, dia pun menjelaskan secara terperinci soal rute mana yang terbaik kalau kita mau memprioritaskan binatang-binatang tertentu untuk dilihat pertama kali. 


  2. Ada eskalator outdoor! Norak ya gue? Haha. Tapi eskalatornya itu teduh banget, karena di sekitarnya dikelilingi sama pepohonan tinggi. Alhasil kita jadi berasa naik eskalator di tengah hutan.
  3. Salah satu pandanya ada yang friendly banget. Ciri-ciri panda yang supel itu bagaimana? Kalau difoto dia kayak nyengir dan bahasa tubuhnya enggak canggung. Soalnya panda di sebelahnya yang malu-malu kucing *gue rasa dia kucing, bukan panda* (gue dan pengunjung lainnya cuma dipunggungin dan dikasih pantat).
  4. Koleksi binatangnya sehat wal'afiat dan rata-rata aktif. Kolam beruang kutubnya juga sebetulnya seru, tapi enggak sempet ambil foto yang lumayan bagus karena gue ke-distract sama oma-oma yang ngajak ngobrol di sebelah. (I always have soft spot for an elder, apalagi kalo yang tiba-tiba ngajak ngobrol atau cerita tentang keluarganya. Takutnya mereka emang lagi kesepian, jadi gue selalu berusaha untuk jadi pendengar yang baik). 
  5. Flamingo-nya warna oranye! Bahkan nyaris merah. Kenapa bisa gitu? Mungkin pakai gincu, abis emang cantik banget sih.
Tapi, ada juga beberapa poin yang mungkin bisa diperbaiki dari kebun binatang ini. 
  • Interaksi sama pengunjung agak kurang, mungkin kalo bisa kayak di Taman Safari yang banyak mengadakan show atau pertunjukan besar (all-inclusive) gitu akan jadi lebih keren lagi ya.
  • Penunjuk jalannya udah OK sih , tapi alangkah baiknya kalau ditambahin keterangan waktu tempuh untuk berjalan kaki bagi orang yang gak mau bayar lagi buat naik bus di dalam bonbin. (Oya harga bus tour-nya sekitar USD13 untuk dewasa dan USD10 buat anak-anak, mahal itu relatif tapi pelit itu mutlak haha mending duitnya dipake buat jajanin anak makan-minum). Karena keterbatasan waktu, kami tidak sempat melihat jerapah. Tapi yang lainnya sih keburu kok, asalkan datang dari pagi ya.

Saran: Siapin "kotak P3K" yang isinya obat-obatan pribadi selain juga plester, minyak gosok, tisu basah, dan kalo bisa Betadine. Oh iya, tentu saja bawa snack sendiri dan air putih yang banyak. Kami bahkan bawa burger dan ayam Chick-fil-A buat picnic lunch! Jangan khawatir, membawa makanan dari luar diperbolehkan kok :-D

Kesimpulannyakebon binatang ini sebenernya recommended banget. Cuma bagi WNI yang belum ada waktu untuk pergi jauh-jauh ke San Diego, coba deh ke Batu Secret Zoo di Malang. Bener-bener gak kalah sama San Diego Zoo lho! Malah menurut gue, BSZ lebih besar dan interaktif. Bangga sama yang bangun Batu Secret Zoo dan pengen nulis satu post khusus soal ini! Kapan-kapan ya sharing tentang BSZ-nya, sekarang waktunya BRB nyusuin bayi hehehe. Thanks for reading :-)



Comments (0)
Read more
Monday, 9 July 2018

[Pregnancy Diary] Road Trip with A Toddler: SF to LA


Beberapa bulan kemarin kebetulan ada rejeki anak soleh buat ngajak 'nak kicil jalan-jalan liat SF (siapa tahu suatu saat kami bisa buka franchise martabak San Francisco di sana ya kan) sama sekalian ke LA (bukan Lenteng Agung soalnya entar nyetirnya kejauhan). Kita menginap sekitar seminggu di SF dan turned out sangat menyenangkan (ceritanya nanti aja di post lainnya biar pemirsa pada penasaran) kemudian lanjut ke Los Angeles lewat jalan darat. Kenapa? Biar irit bisa ngeliat pemandangan yang beda daripada lewat jendela pesawat dong.

Oya, mobilnya boleh minjem di Avis ya. Perjalanan dimulai dari pagi, tapi gak pagi banget. Di tengah jalan, kita berhenti di beberapa tempat yang cukup menarik seperti Carmel-by-the-Sea yaitu kota cantik pinggir laut di mana banyak kafe-kafe lucu, Rocky Creek Bridge (yang sering dan bagus kalau difoto sama travel bloggers di luar sana tapi entah kenapa kalo gue yang foto biasa aja), dan pastinya Big Sur! Di perjalanan, kita sempet ketemu beberapa tupai liar.



Sebetulnya waktu udah tiga perempat perjalanan, ada satu jalan yang gak bisa dilewatin karena sedang direnovasi (dan tidak ter-update lewat Google). Jadi, terpaksa putar balik hampir setengah jalan lebih deh. Seharusnya bisa pakai jalan alternatif sih, tapi terlihat sangat tidak meyakinkan alias horor. Saran: Mending dari awal bikin plan A-B-C sampai Z atau bawa peta cetak kayak orang jaman dulu gitu kali ya daripada seperti kami yang akhirnya ngaret sampe beberapa jam (jangan ditiru). Untung panorama di kiri-kanan jalan lumayan bagus. Malah waktu posting di Instagram Stories, salah satu temen bilang kayak hutan di pelem Twilight. Hoho *mandi pake glitter*. Walaupun amit-amit sih kalo sampe ketemu vampir. #kamitidaktakut #hanyapucatsaja


Anyways... Walaupun perjalanan sempat terlambat sampai hampir larut malam (tiba di LA jam 12 malam lebih kalau gue ga salah ingat), tapi si balita gak rewel lho! Bayangin... Seharian di mobil! Punggung gue aja hampir mau patah (oh iya kebetulan saya lagi hamil anak kedua juga). Kuncinya selain bawa snack yang banyak (kami sengaja belanja khusus camilan semalam sebelumnya dari mulai biskuit yang manis sampai keripik asin semua lengkap kayak mau buka warung) saya sengaja beli sticker juga supaya bocil ga bosan di tengah jalan. Kenapa stiker? Karena saya pikir, daripada gotong mainan berat-berat mending bawa yang ringan dan bisa diselip-selipin di mana aja (kantong, tas, dashboard mobil, dll.) Serta yang paling penting, disposable! Artinya sekali dimainin alias ditempel-tempel ya udah gausah mikir buat dibawa pulang lagi dong. IKHLASKAN! HEMPASKAN! Terbukti cukup ampuh untuk menyibukkan anak umur 3 tahun sampai dia ketiduran sendiri di mobil.



Dan tentu saja karena si balita sudah lulus potty training, kitorang juga ga boleh lupa untuk berhenti di beberapa tempat yang menyediakan WC umum. Saran saya, bawalah tisu basah yang banyak dan juga botol air untuk cebok dan lain-lain. Adapun sembahyang saya lakukan dengan cara jama' qashar di dalam mobil saja. Untuk itu, ada baiknya untuk menyiapkan mukena sendiri aja karena kebetulan gak ada musala atau masjid di tengah jalan (ya menurut ngana?) Oya bagi yang lagi hamil dan terpaksa road trip seperti sayah, banyak makan makanan yang berserat misalnya buah. Saat berhenti di restoran, saya juga pesan sup labu dan roti whole wheat. Biar rasanya gak kayak nasi uduk, yang penting sama-sama kenyang. Saya sendiri juga bawa beberapa pisang... dan obat-obatan seperti minyak angin atau minyak kayu putih dan kawan-kawannya biar kalau masuk angin tinggal langsung gosok! Karena bagaimanapun juga, enggak mungkin kita kerokan di dalam mobil ya 'kaaan?



Semangka! Inga-inga', hamil dan bawa anak balita bukan halangan buat jalan-jalan... Paling cuma encok dikit aja kok hehehehe. Bagi yang mau road trip, mungkin beberapa kesan dan pesan di atas bisa membantu... Selamat jalan-jalan :)
Comments (0)
Read more
Monday, 25 June 2018

Horlicks 'Doggie' Cookies



I saw this recipe on "Happy Home Baking" blog and was totally hooked! Love the fact that it is so simple to bake and contains no added sugar. I'm sure that when you see the look of these cookies, you'll want to start making them right away. Here's how:

HORLICKS 'DOGGIE' COOKIES
(should make about 40 cute pups!)

Ingredients
180g butter (room temperature)
80g Horlicks (original)
200g all purpose flour
25g corn flour
25g milk powder

Koko Krunch / Chocapic cereal (for the ears)
chocolate sprinkles (for the eyes)
chocolate chips (for the nose)

Methods

  1. Pre-heat the oven at 140 degrees Celcius. Line baking tray with baking sheet and set aside. 
  2. Beat butter and Horlicks for about three minutes at low speed.
  3. Sieve the flour and milk powder before putting it into the Horlicks mix.
  4. Divide the dough into more or less 10 gram each. If you want, you can put three chocolate chips into each piece (but I forgot to do this) and roll into balls (I flattened them just a little bit!)
  5. Insert two pieces of Koko Krunch / Chocapic to form the ears, chocolate sprinkles for the eyes, and a chocolate chip for the nose. You can make an angry face or a sad face, it's all up to you!
  6. Bake for about 20 minutes until they're golden brown (baking time can vary depends on your oven.)
  7. Leave to cool on wire rack before storing them in an airtight container.
Easy peasy, right?


Comments (0)
Read more